Wanti-wanti Trump ke Warga AS Karena Corona Makin Mengganas

images result presiden Amerika

Jakarta¬†–¬†Jumlah total kasus positif Corona (COVID-19) di Amerika Serikat (AS) menembus angka 189.510. Tak hanya jumlah kasus, angka kematian orang yang terinfeksi virus Corona di AS pun fantastis, mencapai 811 kematian selama 1 x 24 jam.

“Ini akan menjadi dua pekan yang sangat menyakitkan, sangat, sangat menyakitkan,” kata Presiden AS Donald Trump dalam konferensi pers di Gedung Putih seperti dilansir kantor berita AFP, Rabu (1/4/2020).

Bahkan Gedung Putih mengingatkan bahwa virus mematikan ini bisa menewaskan hingga 240 ribu warga AS. “Saya ingin semua warga Amerika bersiap untuk hari-hari sulit yang ada di depan,” imbuh Trump.

Trump akhirnya mengakui bahwa risiko yang dipicu virus Corona jauh lebih buruk dari flu biasa. Pernyataan ini bertolak belakang dengan pernyataan Trump sebelumnya yang meremehkan virus Corona.

Trump kini menyebut bahwa ‘banyak orang’ yang sebelumnya menyarankan agar AS membiarkan virus Corona, karena sama seperti flu musiman. Pandangan Trump kini berubah.

“Itu (virus Corona-red) bukan flu. Itu ganas,” tegasnya, sambil membahas seorang teman dekatnya yang berjuang melawanCorona dan kini dalam keadaan koma.

Dilansir Reuters dan CNN, jumlah tersebut tercatat sebagai kematian tertinggi dalam sehari di wilayah AS. Hampir separuh dari angka kematian disumbang negara bagian New York, yang merupakan pusat penyebaran virus Corona di wilayah AS.

New York Berharap Bantuan Gedung Putih

Wali Kota New York, Bill de Blasio, meminta pengerahan tambahan dari pemerintahan Trump. De Blasio menyatakan bahwa yang terburuk masih mungkin terjadi beberapa pekan lagi.

“Ini adalah titik saat kita harus bersiap untuk pekan depan, ketika kita mengharapkan peningkatan besar dalam jumlah kasus. Apa yang saya minta sangat jelas, pekan lalu, yakni agar personel medis militer dikerahkan ke sini,” ucap de Blasio.

De Blasio mengungkapkan dirinya telah meminta Gedung Putih mengerahkan 1.000 perawat tambahan, 300 terapis pernapasan dan 150 dokter hingga 5 April nanti. De Blasio menyatakan belum ada jawaban dari Gedung Putih atas permintaannya itu.

Lebih dari 30 negara bagian di AS memerintahkan warganya untuk tetap di rumah demi menangkal penyebaran virus Corona. Langkah tegas semacam ini berdampak pada perekonomian dan menjadikan jutaan orang — untuk sementara — tidak mendapatkan upah.

Menurut data yang dirilis Johns Hopkins University seperti dilansir kantor berita AFP, Rabu (1/4/2020), sejauh ini 4.076 orang telah meninggal karena penyakit COVID-19 di AS. Angka kematian tersebut meningkat lebih dua kali lipat dari jumlah 2.010 kematian yang tercatat pada Sabtu (28/3) waktu setempat lalu.

Jumlah kasus terkonfirmasi virus corona di AS kini telah mencapai 189.510 kasus, atau terbanyak di dunia, meski Italia dan Spanyol mencatat lebih banyak kematian.

Prediksi Kematian Ratusan Ribu Warga AS

Pakar medis Gedung Putih sebelumnya memprediksi bahwa sekitar 100 ribu hingga 200 ribu orang bisa meninggal akibat virus Corona di AS, meskipun langkah-langkah tegas telah diambil pemerintah federal maupun negara bagian. Terus melakukan social distancing merupakan satu-satunya cara untuk menghentikan virus yang sangat mudah menular ini.

“Tidak ada vaksin atau terapi ajaib. Hanya perilaku, masing-masing perilaku kita diterjemahkan menjadi sesuatu yang mengubah perjalanan pandemi virus ini selama 30 hari ke depan,” ujar Deborah Birx, koordinator respons coronavirus di Gedung Putih.

Dalam konferensi pers itu, Birx menampilkan grafik yang menunjukkan kisaran 100 ribu hingga 240 ribu kematian karena virus corona di AS, dengan mempertimbangkan upaya-upaya mitigasi yang diambil saat ini.

Rumah sakit-rumah sakit di negara bagian New York saat ini mulai kewalahan menghadapi para pasien Corona yang dilaporkan terus berdatangan. Sementara terkendala sistem kesehatan yang nyaris mencapai kapasitas.

Curhat Dokter di AS: Bersiap untuk Kemungkinan Terburuk

Seorang dokter setempat, Shamit Patel mengatakan bahwa rumah sakit kini bersiap untuk yang terburuk dalam beberapa hari ke depan. Dia pun berharap dirinya tak akan terpaksa memilih mana pasien Corona yang akan dirawat.

Sebagai contoh, sekitar 10 hari yang lalu, hanya separuh dari pasien-pasien penyakit dalam di Rumah Sakit Beth Israel yang telah berumur 46 tahun — salah satu rumah sakit Mount Sinai di Manhattan — yang menderita penyakit COVID-19. Namun pekan lalu, sebanyak 85-90 persen pasien yang masuk diketahui terinfeksi virus tersebut.

“Kami sudah berhenti menjumpai pasien reguler. Rumah sakit penuh dengan pasien Corona. Kami belum over kapasitas, namun kami memperkirakan bahwa rumah sakit akan over kapasitas,” ujar Patel seperti dikutip kantor berita AFP

Gelombang pasien COVID-19 di Rumah Sakit Beth Israel sejalan dengan lonjakan cepat kasus virus corona di New York City, yang melonjak dari 463 kasus dua pekan lalu menjadi 36 ribu kasus pada Senin (30/3) waktu setempat.

“Dengan tingkat yang saya lihat, puncaknya bisa pada akhir pekan ini hingga pekan depan,” kata Patel.

Patel mengatakan bahwa di bawah tekanan yang ekstrem ini, dirinya telah bersiap untuk yang terburuk. Baginya, yang terburuk bisa saja situasi yang mirip dengan yang terjadi di wilayah-wilayah tertentu di Italia, di mana sistem kesehatan begitu kewalahan sehingga tak bisa lagi merawat semua pasien.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *