Nelangsa Pasien Corona Kecelakaan Akibat Ambulans Pecah Ban

Images Result Pasien Corona

Aceh – 

Insiden memilukan terjadi ketika seorang pasien positif virus Corona asal Aceh Barat Daya (Abdya), Aceh, mengalami kecelakaan di Aceh Jaya. Kecelakaan itu terjadi lantaran ambulans yang membawa pasien tersebut mengalami pecah ban.

“Kecelakaan terjadi akibat pecah ban belakang sehingga mobil hilang kendali,”

Insiden kecelakaan tersebut terjadi siang tadi sekitar pukul 15.30 WIB. Saat itu, ambulans yang dikemudikan Taufiq Hidayat (32) sedang membawa pasien positif Corona berinisial AS dari Abdya ke Rumah Sakit Umum Zainal Abidin (RSUZA) Banda Aceh.

Setibanya di lokasi kejadian persisnya di Desa Lamtui, Kecamatan Jaya, Aceh Jaya, ban belakang sebelah kanan ambulans pecah. Akibatnya, mobil hilang kendali dan tergelincir keluar badan jalan sehingga mengalami kecelakaan.

Hal yang memilukan terjadi ketika sopir dan perawat berpakaian hazmat tampak duduk di pinggir jalan tanpa ada satu pun yang menolong. Namun, setelah ambulans pengganti dari Dinas Kesehatan Aceh Jaya datang, mereka melanjutkan perjalanan ke RSUZA Banda Aceh.

Kita tidak melakukan penyitaan mobil ambulans BL-9071-C karena langsung diamankan oleh Dinas Kesehatan. Ini dikarenakan penumpang AS merupakan pasien positif COVID-19.

Tidak ada yang mengalami luka-luka dalam kejadian ini. Sopir, perawat, dan pasien AS melanjutkan perjalanan ke RSUZA dengan ambulans milik PSC Aceh Jaya.

Kejadian ambulans kecelakaan tersebut bukan yang pertama. Sebelumnya, kecelakaan ambulans juga terjadi di Lhoksukon, Aceh Utara, pada Kamis (23/4). Saat itu ambulans sedang dalam perjalanan membawa pasien dalam pengawasan (PDP) Corona dari Aceh Tamiang ke Rumah Sakit Umum Zainal Abidin (RSUZA) Banda Aceh dan mengalami kecelakaan karena sopir diduga mengantuk.

Kedua kecelakaan ini pun disorot oleh anggota DPR Aceh, Asrizal H Asnawi. Dia meminta ada pengecekan stamina sopir serta kondisi mobil sebelum ambulans digunakan membawa pasien.

“Terlepas dari semua (alasan) itu perawatan mobil ambulans serta mengecek stamina pengemudi jadi hal mutlak,”

Menurutnya, para sopir ambulans di Aceh rata-rata merupakan tenaga kontrak yang mendapat pendapatan tambahan setiap membawa pasien. Oleh sebab itu, katanya, para sopir ini kerap bekerja hingga kelelahan.

“Pendapatan tambahannya sangat tergantung jumlah pasien yang dibawa. Jadi semakin banyak (membawa pasien) semakin ada rezeki lebih, efeknya pada kelelahan berlebih karena memaksa bekerja,” ujar Asrizal.

Politikus PAN ini berharap pemerintah serius memperhatikan nasib tenaga medis di Aceh. Dia menyarankan agar orang-orang yang terlibat dalam penanganan medis diprioritaskan untuk menjadi PNS.

“Untuk tim medis prioritaskan mereka jadi PNS/ASN,” ucap Asrizal.

Selain itu, dia mengaku beberapa kali melihat ada mobil ambulans yang kurang terawat namun tetap dipaksa beroperasi. Menurutnya, hal ini berbahaya bagi sopir, pasien, dan orang lain.

“Dalam beberapa kasus, saya sering menjumpai ambulans kurang layak jalan, namun masih dipaksa jalan,” ujarnya.

Sementara itu, Sekretaris Komisi V DPR Aceh Iskandar Usman Al-farlaky juga meminta perbaikan manajemen ambulans agar kecelakaan serupa tak terulang. Dia meminta tiap ambulans setidaknya memiliki dua sopir yang bisa bergantian saat membawa pasien.

“Jika perlu sopirnya tidak boleh satu orang, yang memungkinkan dia kelelahan,” kata Iskandar.

Iskandar juga meminta pemerintah memperhatikan kondisi psikologis sopir yang membawa pasien terkait COVID-19. Dia menyarankan agar ada edukasi khusus agar sopir ambulans yang membawa pasien terkait Corona tidak waswas dalam perjalanan.

“Kondisi psikologis juga harus benar-benar diperhatikan. Sopir yang membawa pasien positif COVID-19 akan selalu merasa waswas, maka dibutuhkan kematangan mental,” ujar politikus Partai Aceh ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *