Kisah Jusuf Hamka di Antara Buya Hamka hingga Tommy Winata

Images Result Jusuf Hamka, pebisnis dan pegiat sosial

Jakarta – 

Di masa muda, Jusuf Hamka pernah mengenyam pendidikan di sejumlah perguruan tinggi ternama. Tapi tak ada yang tuntas. Bukan karena kurang cerdas, cuma dia memang tak suka dengan formalitas. Meski tak punya ijazah formal, lelaki kelahiran Samarinda, Desember 1957 itu tidak pernah minder dalam bergaul.

Buktinya dia pernah dekat dengan Keluarga Cendana, menjadi anak ideologis ulama besar Prof Buya Hamka, dan sejak muda hingga kini berkarib dengan bos Artha Graha Tommy Winata (TW). Apa rahasianya?

My Word is my Bond. Jadi apa yang sudah saya katakan, itu merupakan janji dan harus saya penuhi,” kata Jusuf Hamka saat berbincang dengan Tim Blak-blakan melalui aplikasi Skype, Senin (27/4/2020).

Prinsip itu pula yang dia ajarkan kepada tiga anaknya. Kalau tak bisa menepati, kata dia, hadapi dan ceritakan masalahnya. Sebab, sekali kita berdusta, seumur hidup tak akan ada orang yang mau percaya kepada kita.

Selain itu, Jusuf Hamka juga dikenal sebagai pengusaha yang gemar berderma. Kebiasaan itu kian intens di tengah wabah virus corona. Selain program nasi kuning yang sudah berjalan 2,5 tahun, dia juga membuat program sembako. Tak sepenuhnya gratis memang. Untuk mencegah orang-orang yang tak berhak ikut berebut dengan kaum papa, dia menjual sembako yang nilainya Rp 25 ribu seharga cuma Rp 5 ribu.

“Biar pemerintah ngurusin wabahnya, kita ngurusin perutnya. Sebab menurut saya the hungry man will be the angry man,” kata Ketua Muslim Tionghoa Indonesia (Musti) itu.

Selain berniat membangun dapur umum untuk masyarakat papa, Jusuf Hamka juga menyarankan kepada para pengusaha memperhatikan kebutuhan pangan warga di sekitar tempat tinggal mereka. Hal ini untuk mencegah kemungkinan terjadinya gangguan kamtibmas akibat ada warga yang kesulitan mencari makan.

Ia juga dipercaya TW untuk mengawasi Rumah Sakit Lapangan di Ancol memeriksa dan menangani warga Jakarta yang terpapar virus corona. Rumah sakit ini dilengkapi sekitar 50 dokter, 150 tempat tidur, dan 40 ventilator.

“Pak Tommy ini seorang visioner dan sensitif betul. Sebelum wabah masuk ke Indonesia, dia sudah menyiapkan rumah sakit lapangan di Ancol,” ujarnya.

Pada bagian lain, lelaki yang semula bernama Josef Alun itu mengisahkan awal dirinya memeluk Islam dan mengenal Buya Hamka. Ulama sekaligus sastrawan itu yang membimbingnya membaca syahadat pada 1981, dan mengangkat sebagai anak ideologisnya. Jusuf Hamka juga mengungkapkan kebanggaanya ketika putri sulungnya, Fitria Jusuf, akhirnya bersedia membaca syahadat pada 13 Maret lalu.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *